Laporan Praktikum Industri Ternak Potong Acara Usaha Ternak Potong

Laporan Praktikum Industri Ternak Potong Acara Usaha Ternak Potong
Laporan Praktikum Industri Ternak Potong Acara Usaha Ternak Potong

LAPORAN PRAKTIKUM INDUSTRI TERNAK POTONG

Acara Usaha Ternak Potong

LABORATORIUM ILMU TERNAK POTONG, KERJA DAN KESAYANGAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

 

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Penggemukan sapi adalah usaha pemeliharaan ternak dengan cara mengandangkan secara terus-menerus selama periode tertentu yang bertujuan meningkatkan produksi daging dengan mutu yang lebih baik sebelum ternak dipotong.  Kebutuhan nutrien dari ternak tersebut harus terpenuhi dengan baik, sehingga mampu memacu peningkatan bobot badan sapi dalam waktu singkat. Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat peternakan yang mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan dimasa depan. Hal ini terbukti dengan semakin banyak diminati masyarakat baik dari kalangan peternak kecil, menengah, maupun swasta atau komersial.

Usaha penggemukan bertujuan untuk menghasilkan pertambahan bobot sapi semaksimal mungkin dan dalam waktu sesingkat mungkin. Selain pertimbangan biaya juga hal yang penting dalam usaha penggemukan. Dalam usaha penggemukan peternak dituntut untuk meminimalkan pengeluaran. Salah satu penyebabnya peternak tidak mendapatkan keuntungan maksimal adalah adalah kurang memiliki strategi untuk mendapatkan untung yang besar, dan banyak penyelubung dari bahan hasil peternakan untuk sampai pada konsumen atau disebut juga kerangnya ilmu peternak tentang manajemen usaha penggemukan.

Manajemen pemeliharaan komoditas ternak sapi pedaging meliputi pengelolaan perkandangan, pembibitan, pengelolaan pakan, perawatan dan pengamanan biologis, serta pemanfaatan limbah ternak dengan memperhatikan sumber daya yang ada. Manfaat beternak sapi antara lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging, untuk meningkatkan pendapatan peternak, dan meningkatkan populasi ternak tersebut, karena di Indonesia konsumsi daging masih rendah dibanding negara maju sehingga Indonesia masih mengandalkan impor daging dari luar negeri.

 Tujuan Praktikum

Praktikum usaha ternak potong ini bertujuan untuk mengetahui cara pengadaan dan pemilihan ternak potong baik, mekanisme penampungan ternak dengan manajemen yang tepat, mengetahui pemasaran ternak.

Manfaat Praktikum

Praktikum bermanfaat untuk mengetahui alur industri ternak potong dari hulu sampai hilir, mulai dari manajemen pengadaan ternak, manajemen recording, manajemen pemeliharaan, manajemen perkandangan, manajemen pakan, manajemen oerawatan dan kesehatan ternak, manajemen limbah peternkana, analisis usaha dan manajemen paska panen dan pemasaran. Praktikan dapat mempertimbangkan hal2 apa saja yang perlu diperhatikan ketika bekerja dibidang feedlot ternak.

 

PROFIL PERUSAHAAN

 Kusuma farm merupakan sebuah peternakan sapi potong yang beralamatkan di Mawen RT06 RW03 Pesu, Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Peternakan Kusuma Farm merupakan sebuah peternakan sapi potong yang bergerak dibidang penggemukan (fattening) sapi potong. Pemilik dari Kusuma Farm adalah Bapak Dwi Warsita yang merupakan seorang lulusan sarjana teknik yang pekerjaan utamanya adalah sebagai kontraktor. Peternakan Kusuma Farm awalnya didirikan oleh Bapak Dwi Warsito berdasarkan atas hobi dari Bapak Dwi Warsito yang sangat menyukai beternak. Berdasarkan atas hobi tersebut, pada tahun 1998 Bapak Dwi Warsito mulai merintis bisnis peternakan dengan memelihara 5 ekor ternak sapi potong. Seiring berjalannya waktu, peternakan Kusuma Farm dari hanya memiliki 5 ekor ternak sapi sekarang menjadi memiliki kurang lebih 100 ekor sapi potong. Selain memelihara sapi potong, peternakan Kusuma Farm juga bergerak dalam bidang perikanan dan juga memelihara ternak ayam, baik itu ayam broiler maupun ayam layer. Kekurangan dari peternakan Kusuma Farm adalah belum memiliki ijin pendirian usaha yang resmi sehingga masih belum adanya pembayaran pajak.

 

 

KEGIATAN PRAKTIKUM

Manajemen Pengadaan Ternak

Pengadaan Ternak

Siklus Pengadaan Ternak. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa siklus pengadaan ternak yang ada di peternakan Kusuma Farm adalah dengan cara membeli bibit dari pasar Prambanan yang biasanya dilakukan hanya ketika pasar tersebut buka yaitu setiap 5 hari sekali karena pasar Prambanan hanya buka menurut kalendar Jawa yaitu pada hari legi di kalendar Jawa. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa siklus pengadaan ternak dilakukan setiap 5 hari sekali.

Metode Pengadaan Ternak. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa metode pengadaan ternak yang ada di peternakan Kusuma Farm adalah dengan membeli bakalan di pasar hewan pada penjual yang biasanya dibeli bibitnya, kemudian biasanya ternak yang sudah siap potong juga dijual kepada orang yang di tempat dimana bibit tersebut dibeli. Berdasarkan diskusi yang dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa metode pengadaan ternak dilakukan dengan membeli bakalan di pasar hewan Prambanan.

Jumlah Ternak yang Dibeli Persiklus Pengadaan. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa jumlah ternak yang dibeli persiklus pengadaan pada peternakan Kusuma Farm tidak menentu, tetapi biasanya pemilik peternakan membeli dua sampai tiga ekor sapi yang merupakan hasil dari penjualan satu ekor sapi yang siap potong. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa jumlah ternak yang dibeli persiklus pengadaan adalah 2 sampai 3 ekor sapi.

Pemilihan dan Seleksi Ternak

Pemilihan Ternak

Kriteria Bakalan untuk Penggemukan. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa kriteria bakalan untuk penggemukan yang biasanya digunakan pada peternakan Kusuma Farm adalah dengan membeli bakalan dengan kriteria ternak harus tegap, memiliki kaki yang besar, antara kepala dan badang harus seimbang, memiliki punggung yang rata, dan memiliki warna yang cerah. Sapi yang biasanya digunakan untuk pembesaran di peternakan tersebut adalah sapi dengan jenis sapi SimPO dan juga Brahman. Secara teoritis umur sapi bakalan yang baik untuk digemukkan adalah 1,5-2,5 tahun atau gigi seri tetap sudah 1-2 pasang (poel 1 dan 2) karena umumnya sapi bakalan yang berumur demikian memiliki laju pertumbuhan yang optimal, efisiensi pakan yang tinggi (Ngadiyono, 2012). Ditambahkan pula oleh Syafrial et al., (2007), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu bangsa sapi, jenis kelamin, umur, kondisi tubuh. Bangsa sapi yang dipilih untuk penggemukan yaitu yang memiliki produktivitas tinggi atau jenis unggul, baik sapi lokal maupun jenis sapi impor atau persilangan. Sapi yang digemukkan sebaiknya berjenis kelamin jantan, terutama yang dikastrasi karena cepat pertumbuhannya. Berdasarkan literatur yang ada, dapat disimpulkan bahwa kriteria bakalan untuk penggemukan sudah lumayan baik.

Metode Seleksi Ternak. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa metode seleksi yang digunakan di peternakan Kusuma Farm adalah metode seleksi secara visual, yaitu ternak yang sekiranya sudah gemuk dan besar langsung dijual untuk digantikan ternak baru yang siap untuk dibesarkan kembali. Penggemukan ternak sapi di peternakan tersebut biasanya berlangsung selama 5 bulan. Menurut Basuki et al., (1998), metode seleksi ternak ada 6, yaitu pedigree, progeni test, Independent culling level, tandeem method, dan farm test selection. Pedigree yaitu metode seleksi ternak dengan mempertimbangkan asal usul nenek moyangnya dan memerlukan catatan silsilah. Progeni test yaitu metode seleksi ternak dengan mengevaluasi penampilan anak untuk memilih induk sebagai bibit yang relevan untuk masa pertumbuhan dan reproduksi cepat. Independent Culling Level yaitu metode seleksi ternak dengan satu indikator, misalnya dengan pertambahan bobot badan harian terhadap konversi pakan. Farm test selection menggunakan 3  prinsip seleksi yaitu prinsip pertama adalah memilih breeding stock terbaik dalam satu populasi di suatu lokasi. Prinsip kedua adalah elite breeders ditempatkan pada satu lokasi yang perlakuannya sama. Prinsip ketiga adalah anak dari elite breeders dipelihara di lingkungan dan perlakuan yang sama. Berdasarkan literatur yang ada, dapat disimpulkan bahwa metode seleksi ternak masih kurang baik karena hanya menunggu ternak hingga sudah besar dan siap jual.

Replacement Ternak. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa replacement ternak yang ada di peternakan Kusuma Farm adalah dengan cara setiap penjualan ternak sapi yang sudah siap potong maka hasil penjualan tersebut akan dibelikan lagi dengan bakalan ternak yang baru dengan jumlah biasanya 2 sampai 3 ekor bakalan ternak baru. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa replacement ternak yang dilakukan dengan menjual ternak yang sudah besar dan mengganti ternak baru dengan jumlah ternak sebanyak 2 ekor.

Penilaian Ternak. Penilaian ternak yang dilakukan ketika praktikum adalah dengan cara memilih ternak secara acak dan kemudian diamati secara visual dan disesuaikan kondisi tubuh ternak dengan ketentuan skor kondisi tubuh (BCS) yang sudah ditetapkan. Pengamatan BCS yang diamati meliputi tulang rusuk, paha dan pantat, dan tulang segitiga lapar ternak. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1. Penilaian ternak

Bangsa No. identifikasi Nilai Ciri-ciri
Simpo Betina 1 4 Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat besar, segitiga lapar terlihat
Limpo (Hitam) Betina 2 3 Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat mulai berisi, segitiga lapar terlihat
Brahman X Jantan 1 3 Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat berisi, segitiga lapar terlihat

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa BCS dari sapi SimPO adalah 4 dengan ciri-ciri Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat besar, segitiga lapar terlihat. BCS dari sapi Lipo adalah 3 dengan ciri-ciri Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat mulai berisi, segitiga lapar terlihat. BCS dari sapi Brahman C adalah 3 dengan ciri-ciri Tulang rusuk tidak terlihat, paha pantat mulai berisi, segitiga lapar terlihat. Penilaian ternak sapi dapat dilihat dari 4 cara yaitu pandangan samping, pandangan belakang, pandangan depan, dan perabaan. Penilaian pandangan samping dapat dilakukan dengan penilaian yang dilakukan pada jarak 3 m sampai 4.5 m dan memperhatikan kedalaman tubuh sapi, keadaan lutut, kekompakan bentuk tubuh, ketebalan legok lapar, pinggul dan kaki. Penilaian pandangan belakang dapat dilakukan dengan penilaian yang dilakukan pada jarak kurang lebih 3 m dan memperhatikan kelebaran pantat, kedalaman otot, kelebaran dan kepenuhan pantat serta keserasian berdiri pada tumpuan kaki-kakinya. Penilaian pandangan depan dapat dilakukan dengan penilaian pada jarak kurang lebih 3 m dan memperhatikan bentuk dan ciri-ciri kepala, kebulatan bagian rusuk, kedalaman dada, dan keadaan pertulangan serta keserasian kaki depan. Penilaian dengan cara perabaan untuk menentukan tingkat dan kualitas akhir melalui perabaan yang dirasakan melalui ketipisan, kerapatan dan kelunakan kulit serta perlemakannya Purwadi et al., (2005).

Proses Transaksi

Cara Penawaran dan Pembayaran

Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa cara penawaran dan pembayaran yang biasanya dilakukan di peternakan Kusuma Farm adalah dengan cara kepercayaan antara penjual dengan pembeli sehingga hal tersebut sangat bergantung pada kejujuran antara kedua belah pihak. Penjual dan pembeli saling berdiskusi untuk membahas harga yang cocok untuk ternak yang akan dijual, apabila kesepakatan sudah didapat, maka baru diadakan diskusi tentang pembayaran. Pembayaran yang dilakukan biasanya dengan sistem cash dan kredit. Sistem kredit dapat dicicil dalamjangka waktu tertentu sesaui dengan hasil kesepakatan yang didapat. Apabila ternak yang dijual tersebut dalam keadaan bunting, maka harga jual untuk ternak tersebut ditambahkan 3 sampai 4 juta karena sudah terdapat anak di dalam uterus sang induk yang akan dijual. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cara penawaran dan pembayaran yang dilakukan dengan cara berdiskusi untuk menentukan harga yang cocok untuk ternak yang akan dijual.

Penafsiran Umur, Bobot Badan, dan Harga Ternak

Penafsiran umur, bobot badan, dan harga ternak dilakukan pada salah satu sampel sapi yang ada di peternakan tersebut. Setelah dilakukan sampling kepada ternak secara acak, dapat ditafsirkan bahwa ternak yang dipilih tersebut memiliki umur 3 tahun dengan bobot badan sekitar 2 sampai 3 kwintal dengan perkiraan harga jual dari ternak tersebut adalah 13 juta.

Penanganan Ternak Terbeli

Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa penangana ternak yang baru saja dibeli di peternakan Kusuma Farm adalah dilakukan karantina terhadap ternak tersebut agar dapat menyesuaikan dengan kondisi kandang serta pakan yang akan diberikan dalam program pembesaran. Ternak yang baru saja datang di peternakan tersebut tidak dilakukan pemberian tanda maupun penimbangan karena pemilik ternak sudah hafal dengan ternak yang dimilikinya tersebut dan bobot badan dari ternak tersebut hanya ditafsirkan saja tanpa dilakukan penimbangan. Ternak sapi yang dibeli harus membayar retribusi sebesar Rp 3.000/ekor dan untuk biaya pengangkutan menggunakan pick up dengan biaya Rp 75.000/pick up. Penanganan ternak yang baru datang juga biasanya diberikan obat cacing, vitamin dan antibiotik. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penanganan ternak terbeli dilakukan dengan melakukan karantina terhadap ternak tersebut. 

Transportasi

Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa alat transportasi yang digunakan di peternakan Kusuma Farm adalah dengan menggunaka pick up dengan kapasitas pengangkutan biasanya 2 ekor sapi dewasa atau 3 sampai 5 ekor pedet. Proses penaikan ternak dilakukan dengan cara ternak langsung naik sendiri ke dalam pick up. Ternak yang sudah berada dalam pick up biasanya akan dikirim ke tempat pemesannya, ketika selama proses pengiriman, ternak diberikan pakan karena jarak yang ditempuh lumayan dekat yaitu sekitar 30 menit perjalanan. Proses penurunan ternak dari pick up setelah proses pengiriman dilakukan dengan membiarkan ternak turun secara langsung dari dalam pick up. Hal ini sangat membahayakan bagi ternak karena dapat menyebabkan cedera pada ternak tersebut. Menurut Santosa (2006), tempat pemuatan atau loading chute berguna untuk menaikkan sapi ke atas truk atau menurunkan sapi dari truk.

 

Manajemen Pendataan (Recording)

Tahapan Recording

Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa peternakan Kusuma Farm tidak melakukan recording terhadap ternak yang ada di peternakan tersebut. Ternak yang baru datang biasanya hanya langsung dikarantina tanpa dilakukan recording, dan kemudian setelah dikarantina maka ternak akan ditempatkan di kandang yang sekiranya masih kosong. Ternak yang ada sudah dilakukan pengelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan umur, tetapi masih belum maksimal karena tidak ada ketentuan kisaran pengelompokan umur maupun jenis kelamin dari ternak tersebut. Menurut Hakim et al., (2010), recording ternak merupakan proses pencatatan semua kegiatan dan kejadian yang dilakukan pada suatu usaha peternakan. Kegiatan ini perlu dilakukan karena sangat mendukung upaya perbaikan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan. Dengan adanya recording juga dapat diketahui silsilah ternak, yang sangat bermanfaat untuk melakukan analisis komponen ragam dan menduga nilai pemuliaan (breeding value) seekor ternak. Oleh karenanya kegiatan pencatatan (recording) ini dapat meliputi aspek peternaknya, aspek organisasi dan semua kejadian yang dialami dalam usaha peternakan dan performa ternak yang bersangkutan. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa di Kusuma Farm tidak dilakukan recording.

 

Manajemen Pemeliharaan

Penanganan Ternak sebelum Program Pemeliharaan

Penanganan Bibit/Bakalan. Berdasarkan diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa penanganan bibit atau bakalan yang ada di peternakan Kusuma Farm adalah dengan cara pemberian vitamin yang bertujuan untuk meningkatkan nafsu makan terhadap bakalan tersebut, selain itu juga perlu dilakukan adaptasi terhadap pakan yang diberikan karena pakan yang diberikan dalam program penggemukan di peternakan tersebut agak berbeda, dan juga diberikan obat cacing yang bertujuan agar ternak bakalan tersebut terhindar dari penyakit. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penanganan bibit/bakalan yang dilakukan dengan pemberian vitamin dan obat cacing.

Komposisi dan Struktur Ternak. Ternak yang dipelihara di peternakan Kusuma Farm ada berbagai jenis macam sapi potong serta umur yang berbeda-beda. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa komposisi ternak yang ada di peternakan Kusuma Farm adalah :

Tabel 2. Komposisi dan struktur ternak

Bangsa Anak Muda Dewasa Total
Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina
Simpo 1 3 34 1 19 32 90
Brahman 1 11 12
Limpo 1 1
Total 1 3 35 2 30 32 103

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa jumlah ternak yang dipelihara kebanyakan adalah berjenis kelamin jantan karena tujuan pemeliharaan di peternakan Kusuma Farm adalah penggemukan. Jenis ternak yang dipilih kebanyakan adalah jenis sapi Simpo karena dianggap memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibanding jenis sapi potong yang lainnya.

 

Manajemen Perkandangan

Lokasi

Peternakan Kusuma Farm berada di Mawen RT 06 RW 03, Pesu, Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Lokasi perkandangan peternakan tersebut sangat dekat dengan rumah warga serta sangat dekat dengan jalan sehingga akses jalan sangat mudah. Menurut Fikar dan Dadi (2010) menyatakan bahwa syarat lokasi pembibitan sapi yaitu akses jalan yang baik, ketersediaan air bersih mencukupi, sirkulasi udara baik, serta keamanan dan kondisi sosial masyarakat baik. Ditambahkan pula oleh Abidin (2006), lokasi kandang yang baik yaitu cukup jauh dari pemukiman agar bau dan limbah peternakan tidak mengganggu penghuni pemukiman. Jarak kandang dengan  pemukiman minimum 50 meter. Apabila jaraknya terlalu dekat sebaiknya dibangun barrier (tembok pembatas) atau pagar tanaman yang pertumbuhannya rapat sebagai peredam angin. Tembok setinggi 3 meter sebagai peredam angin pengaruhnya setara dengan jarak 50 meter. Berdasarkan literatur yang ada, dapat disimpulkan bahwa lokasi kandang kurang baik karena berdekatan dengan pemukiman warga.

Tataletak Kandang

Tata letak kandang merupakan suatu penempatan segala bagian kandang yang sesuai, sehingga didapatkan efisiensi pemeliharaan dan tidak mengganggu kegiatan peternakan lainnya. Menurut Yulianto dan Cahyo (2010) agar usaha ternak berjalan dengan baik diperlukan penataan di areal kandang tersebut. Hal ini karena kandang yang dibutuhkan tidak hanya kandang untuk pemeliharaan ternaknya saja, tetapi juga bangunan atau sarana pendukung lainnya.

Kandang yang ada di peternakan Kusuma Farm memiliki tata letak yang sudah cukup baik dan tertata. Gudang pakan terletak didekat kandang sehingga memudahkan dalam distribusinya kepada ternak. Arisuma (2005), menyatakan bahwa letak kandang harus mudah dijangkau untuk mempermudah manajemen pemeliharaan ternak. Dapat disimpulkan, tata letak ruang didalam peternakan di laboratorium ternak potong sudah baik. Santosa (2006), menyatakan sebelum kandang dibangun perlu dipertimbangkan adanya tempat pengolahan kotoran, gudang, tempat naik turunnya ternak dari kendaraan pengangkut, tempat pengeringan jerami, serta tempat pengolahan pupuk kandang dan limbah cair. Perencanaan pembangunan kandang juga perlu memperhatikan faktor letak dan iklim setempat, bahan bangunan, dan konstruksi kandang.

Karakteristik Kandang

Praktikum karakteristik kandang dilakukan dengan mengamati karakteristik kandang yang meliputi jenis kandang, atap kandang, dinding kandang, alas kandang, ukuran lokal kandang, isi ternak, ukuran bangunan kandang, ukuran tempat pakan, ukuran tempat minum, ukuran selokan, kemiringan kandang, kemiringan selokan, dan floor space. Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh data karakteristik kandang adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Karakteristik Kandang

Pengamatan Kandang
1 2 3 4
Jenis Kandang Tail to Tail Head to Head Tail to Tail Head to Head
 

Atap

Bentuk gable terbuat dari asbes Bentuk gable, terbuat dari genteng Bentuk gable, terbuat dari genteng Bentuk gable, terbuat dari genteng
DInding Semi terbuka, kayu, semen Semi terbuka, semen, kayu Semi terbuka, semen, kayu Semi terbuka, semen, kayu
Alas Semen Semen Semen Semen
Ukuran lokal kandang (p x l) (m2)  

7,4 x 6,3

 

12,9 x 19

 

15 x 6,2

 

15 x 10

Isi ternak 10 17 10 18
Ukuran bangunan kandang (p x l) (m2)  

10,5 x 10,1

 

10,6 x 13,4

 

15,8 x 10,2

 

15,8 x 12

Ukuran tempat pakan  (p x l x t) (cm)  

d : 53 t : 23

 

d : 53 t : 23

 

18 x 78 x 10

 

d : 53 t : 23

Ukuran tempat minum (d x t) 53 x 23 53 x 23 53 x 23 53 x 23
Ukuran selokan (p x l x t) (cm) 550 x 30 x 2,5 129 x 60 x 8 150 x 90 x 8 150 x 38 x 10
Kemiringan kandang (%) 4 4 4 4
Kemiringan selokan (%) 1 2 2 2

Berdasarkan data dari tabel tersebut, diketahui bahwa kandang yang ada di peternakan Kusuma Farm merupakan jenis kandang tambat individu dengan menggunakan atap jenis gable yang berbahan asbes serta dinding terbuat dari kayu dan semen serta alas terbuat dari semen. Menurut Rianto dan Purbowati (2010), persyaratan kandang yang baik dan sehat antara lain luas ruangan sesuai dengan bangsa sapi, umur, jenis kelamin, dan jumlah sapi yang dipelihara, spesifikasi disesuaikan dengan kondisi daerah setempat, bahan yang digunakan dipilih dari bahan yang relatif kuat, tidak terkontaminasi bahan beracun atau bibit penyakit dan tahan lama, biaya relatif mudah, memiliki sistem ventilasi yang baik dan menjamin lancarnya arus pergantian udara, cukup mendapat sinar matahari, khususnya sinar matahari pagi, dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat untuk minum sesuai dengan kebutuhan ternak, bahan dan alat yang digunakan tidak menyulitkan dalam pembersihan dan sanitasi, kandang ganda perlu dilengkapi dengan lorong yang cukup lebar dan menjamin kemudahan bagi lalu lintas kegiatan.

Model atap kandang dibagi menjadi empat macam yaitu atap monitor, semi monitor, gable dan shade. Model atap untuk daerah dataran tinggi hendaknya menggunakan shade atau gable, sedangkan untuk dataran rendah adalah monitor atau semi monitor. Atap kandang yang digunakan di peternakan Kusuma Farm adalah jenis gable.

Jenis dinding yang ada pada kandang tersebut tersebut terbuat dari kayu dan semen. Menurut Yulianto dan Saparinto (2010), dinding kandang dapat terbuat dari tembok, anyaman bambu, papan, lembaran seng, atau kisi-kisi kawat atau bambu. Pembuatan kandang tersebut dikenal adanya dinding kandang tertutup dan setengah terbuka. Dinding kandang tertutup yaitu dinding menutup sisi-sisi kandang secara penuh, sementara dinding kandang setengah terbuka yaitu dinding yang hanya menutup sekitar setengah dari tinggi kandang. Menurut Rianto dan Purbowati (2010), dinding kandang berguna untuk membentengi ternak agar tidak lepas, menahan angin, dan menahan suhu udara agar tetap nyaman.

Lantai dari kandang sapi yang ada di peternakan Kusuma Farm terbuat dari semen dengan kemiringan kandang sebesar 4%. Menurut Rasyid dan Hartatik (2007), lantai kandang harus selalu terjaga drainasenya, sehingga untuk lantai kandang non litter dibuat miring ke belakang untuk memudahkan pembuangan kotoran dan menjaga kondisi lantai tetap kering. Kemiringan lantai berkisar antara 2% sampai 5%, artinya setiap panjang lantai 1 meter maka ketinggian lantai bagian belakang menurun sebesar 2 cm sampai 5 cm.

Gambar 4. Kemiringan Lantai Kandang dan Ukuran Selokan

(Rasyid dan Hartati, 2007).

Fasilitas, Perlengkapan, dan Peralatan Kandang

Fasilitas, perlengkapan, dan peralatan pendukung kandang dilakukan dengan diamati dan kemudian dicatat jenis fasilitas, perlengkapan dan peralatan yang ada beserta jumlah dan juga fungsi dari masing-masing.

Tabel 4. Fasilitas kandang

Fasilitas Jumlah Fungsi
Gazebo 1 Tempat istirahat
Garasi Mobil 1 Tempat parkir mobil
Toilet 1 Tempat BAB dan mandi
Tempat pengolahan dan penampungan pakan 1 Tempat untuk mengolah pakan
Gudang pakan 1 Tempat menyimpan pakan
Ruang istirahat 1 Tempat istirahat

Fasilitas kandang merupakan sesuatu yang ada pada kandang yang digunakan untuk lebih menunjang aktivitas yang dilakukan di kandang yang meliputi pemberian pakan, perawatan ternak serta pembersihan kandang. Fasilitas kandang diketahui dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi perkandangan. Menurut Rasyid dan Hartati, (2007), beberapa perlengkapan kandang untuk sapi potong meliputi: palungan yaitu tempat pakan, tempat minum, saluran drainase, tempat penampungan kotoran, gudang pakan dan peralatan kandang. Disamping itu harus dilengkapi dengan tempat penampungan air yang terletak diatas (tangki air) yang dihubungkan dengan pipa ke seluruh kandang. Menurut Widi et al., (2008), fasilitas yang harus ada dalam suatu peternakan diantaranya adalah kandang ternak, lahan hijauan, gudang pakan, pos keamanan, dan pengolahan limbah.

Tabel 5. Perlengkapan kandang

Perlengkapan Jumlah Fungsi
Timbangan 1 Menimbang bahan pakan
Blower 2 Membantu pembakaran dan pemasakan
Mesin giling roti 1 Menghaluskan paka roti
Sumur 2 Tempat sumber air
Drum air 3 Tempat menampung air
Genset 1 Sumber listrik

Perlengkapan kandang merpuakan sesuatu yang ada di kandang yang digunakan untuk membantu memudahkan dalam melakukan perawatan terhadap ternak terutama dalam hal pemeliharaan ternak. Perlengkapan kandang yang ada di peternakan Kusuma Farm diketahui dengan mengamati langsung ke lokasi perkandangan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diketahui perlengkapan kandang terdiri dari timbangan, blower, mesin giling roti, sumur, drum air, dan genset. Menurut Rasyid dan Hartati (2007), beberapa perlengkapan kandang untuk sapi potong meliputi: palungan yaitu tempat pakan, tempat minum, saluran drainase, tempat penampungan kotoran, gudang pakan dan peralatan kandang.

 

Tabel 6. Peralatan kandang

Peralatan Jumlah Fungsi
Troli 5 Mengangkut feses
Sekop 3 Mengambil feses
Ember kecil 48 Memindahkan pakan
Ember sedang 65 Untuk tempat pakan
Ember besar 73 Untuk tempat pakan
Gerobak 1 Mengangkut feses
Sapu 1 Memebersihkan kandang
Pompa air 1 Menyedot air
Panci 5 Merebus air
Tungku 2 Memasak atau merebus air
Selang 2 Menyalurkan air
Tong 8 Menyimpan air
Garu 2 Mengambil hijauan
Serok sampah 2 Membersihkan kandang
Tali 3 Mengikat ternak
Cangkul 2 Membersihkan kandang

Peralatan kandang merupakan sesautu yang ada di kandang yang berfungsi untuk membantu memudahkan perawatan baik ternak maupun kandang agar kandang tetap dalam kondisi bersih sehingga ternak tidak mudah terjangkit penyakit. Peralatan yang ada pada kandang diketahui dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi perkandangan. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui peralatan kandang meliputi troli, sekop, ember kecil, sedang, dan besar, selang air, serok pakan dan feses, sapu,gerobak, pompa air, panci, tungku, tong, dan garu.

Menurut Yulianto dan Saparinto (2010), adapun peralatan kandang yang diperlukan sebagai berikut: alat suntik, vaksinasi, dan pengobatan; sekop untuk membersihkan kotoran dan mengaduk pakan konsentrat; ember plastik atau logam untuk mengangkut air, pakan, atau memandikan  ternak; sapu lidi untuk membersihkan kandang; garu kecil untuk membersihkan sisa pakan dan kotoran; selang untuk saluran air; sikat untuk menggosok badan ternak; kereta dorong/gerobak untuk mengangkut sisa kotoran, sampah, sprayer untuk memberantas ektoparasit pada sapi; tali untuk mengikat dan keperluan lainnya.

Suhu dan Kelembaban Kandang

            Suhu dan kelembaban kandang diukur dengan menggunakan alat thermohygrometer yaitu alat untuk mengukur suhu dan kelembaban sekaligus. Produksi ternak di daerah tropis dipengaruhi oleh iklim, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan mempengaruhi lingkungannya (Widi et al., 2008). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 7. Suhu dan kelembaban kandang

Waktu Suhu (0C) Kelembaban (%)
Pagi : 07.10 28,4 88
Siang : 13.20 35,1 61
Sore : 15.20 34,2 69

Menurut Ngadiyono (2012), temperatur idela untuk ternak sapi adalah 17ᵒC sampai dengan 27ᵒC sedangkan kelembaban lingkungan yang ideal berkisar antara 60% sampai dengan 70%. Temperatur dan kelembaban keduanya saling mempunyai keterkaitan. Temperatur dan kelembaban lingkungan akan mempengaruhi frekuensi respirasi, frekuensi pulsus, dan temperatur rektal. Tinggi tempat mempengaruhi tinggi rendahnya kelembaban udara yang sangat berpengaruh terhadap hilangnya panas dari tubuh hewan sehingga penting untuk mengimbangi rata-rata hilangnya panas dari tubuh. Menurut Abidin (2006), tingkat kelembapan tinggi (basah) cenderung berhubungan dengan tingginya peluang bagi tumbuh dan berkembangnya parasit dan jamur. Sebaliknya, kelembapan rendah (kering) menyebabkan udara berdebu, yang merupakan pembawa penyakit menular. Kelembapan ideal bagi sapi potong adalah 60% sampai 80%.

 

Manajemen Pakan

Bahan Pakan

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat ternak makan, tidak membahayakan bagi ternak, dan menghasilkan energi. Pakan sangat penting diperlukan untuk pertumbuhan ternak karena mengandung zat gizi, oleh karena itu pakan harus tersedia terus. Pakan yang umum diberikan berupa hijauan, tetapi pada saat ketersediaan hijauan berkurang maka perlu dilakukan pengawetan atau penambahan pakan penguat (Mulyono, 2005). Bahan pakan yang digunakan di Kusuma Farm diketahui dengan mengamati langsung ke lokasi perkandangan. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa bahan pakan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 8. Bahan pakan

Bahan Pakan BK (%) PK (%) Harga/kg (Rp) Asal
Ketela 32,3 4,2 2000 Klaten
Roti afkir 2500 Klaten
Ampas tahu 16 5,8 500 Klaten
Nutrifeed 86,62 8,45 2000 Klaten
Garam 1500 Klaten
Jerami 40,83 4,5 500000/truk Klaten

Pakan utama sapi adalah hijauan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak perlu diberikan konsentrat. Konsentrat dan pakan lain yang dimaksudkan sebagai penguat tidak boleh diberikan terlalu banyak. Konsentrat yang diberikan pada ternak merupakan campuran ketela, roti afkir, ampas tahu, nutrifeed dan garam. Pakan hijauan yang diberikan berupa jerami yang sudah dikeringkan. Menurut Syafrial et al., (2007), Konsentrat adalah campuran dari beberapa bahan pakan untuk melengkapi kekurangan gizi dari hijauan pakan ternak. Bahan pakan konsentrat yang dapat diberikan pada ternak sapi antara lain : dedak padi, bungkil kelapa, jagung giling, bungkil kacang tanah, ampas tahu, ampas kecap, dan lain-lain. Campuran bahan pakan konsentrat yang diberikan pada ternak sangat tergantung kepada harga dan ketersediaan bahan pakan. Menurut Winugroho (2002), pakan hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daunan yang masih bercampur batang, ranting dan bunga, umumnya dari sebangsa rumput dan kacang-kacangan.

Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat vital dalam pemeliharaan ternak. Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat menyebabkan defisiensi makanan sehingga tenak mudah terserang penyakit. Oleh karena itu, penyediaan dan pemberian pakan harus diupayakan secara terus menerus sesuai dengan standar gizi menurut tingkatan umur ternak (Bambang, 2003). Menurut Abidin (2006), bahan pakan yang baik adalah bahan pakan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral serta tidak mengandung racun yang dapat membahayakan ternak yang mengkonsumsinya.

Proses Penyusunan Bahan Pakan

Bahan pakan yang diberikan kepada ternak di peternakan Kusuma Farm berasal dari hijauan dan konsentrat sehingga proses penyusunannya juga berbeda. Proses penyusunan bahan pakan diketahui dengan mengamati langsung ke lokasi perkandangan. Pakan hijauan diberikan dalam bentuk jerami yang sudah dikeringkan, sedangkan untuk pakan konsentrat diberikan dengan cara mencampurkan bahan pakan ketela yang sudah dihaluskan, roti afkir yang sudah dihaluskan, ampas tahu, nutrifeed dan garam. Semua bahan pakan konsentrat tersebut dicampur menjadi satu dan kemudian ditambahkan air panas untuk membentuk pakan dalam bentuk komboran. Pakan yang diberikan pada sapi penggemukan diharapkan untuk mencapai bobot badan yang setinggi-tingginya dalan waktu relatif singkat. Oleh sebab itu, ransum yang diberikan ke ternak harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan ternak baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Syafrial et al., 2007). Menurut Darmono (1999), pemberian pakan dimaksudkan agar sapi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus untuk pertumbuhan dan reproduksi. Semakin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, maka semakin besar tenaga yang ditimbulkan dan semakin besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

Metode Pemberian Pakan

Metode pemberian pakan diketui dengan melakukan pengamatan dan praktikum langsung ke lokasi perkandangan. Metode pembeerian pakan yang diterapkan di peternakan Kusuma Farm adalah dengan menggunakan komboran untuk pakan konsentrat dan jerami kering untuk pakan hijauan. Pakan hijauan dan konsentrat diberikan setiap pagi dan sore dengan jumlah pemberian masing-masing adalah 5 kilogram baik untuk pagi maupun sore hari. Martawidjaja (2003), menyatakan bahwa ternak ruminansia harus mengkonsumsi sebanyak 10 % dari berat badannya setiap hari dan konsentrat sekitar 1,5-2% dari jumlah tersebut termasuk suplementasi vitamin dan mineral. Menurut Syafrial et al., (2007), cara penyajian pakan hijauan pada ternak sebaiknya dicincang pendek-pendek agar lebih mudah dikonsumsi. Pakan konsentrat dapat diberikan pagi hari sebelum pemberian hijauan. Menurut Siregar (2008) teknik pemberian ransum yang baik untuk mencapai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong adalah dengan mengatur jarak waktu antara pemberian konsentrat dengan hijauan. Pemberian konsentrat dapat dilakukan dua kali dalam sehari atau tiga kali dalam sehari semalam. Cara pemberian hijauan pada sapi yang digemukkan, sebaiknya dihindari pemberian yang sekaligus dan dalam jumlah yang banyak. Pemberian hijauan yang demikian ini akan berakibat pada banyaknya hijauan yang terbuang dan yang tidak dimakan sapi. Berdasarkan litertur yang ada, dapat disimpulkan bahwa metode pemberian pakan yang dilakukan sudah lumayan baik.

 

Manajemen Perawatan Dan Kesehatan Ternak

Perawatan Ternak

Berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa perawatan ternak yang ada di Kusuma Farm tidak dilakukan perawatan secara khusus untuk menghindari penyakit, hanya ketika terdapat ternak yang sedang sakit baru dilakukan perawatan kepada ternak yang sakit tersebut. Menurut Rianto dan Endang (2010), bahwa perawatan sapi untuk mencegah terkena penyakit dapat dilakukan dengan berbagai berbagai cara antara lain vaksinasi ternak secara teratur terhadap penyakit, periksa kesehatan ternak secara teratur, melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang, sanitasi lingkungan yang baik, dan menjauhkan ternak-ternak yang terkena penyakit menular dari ternak yang sehat. Berdasarkan literatur yang ada dapat disimpulkan bahwa perawatan ternak yang dilakukan masih kurang baik karena tidak ada perawatan terhadap ternak dan hanya menunggu ternak sakit baru dilakukan perawatan.

Perawatan Sarana dan Prasarana

 Berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa perawatan sarana dan prasarana di peternakan Kusuma Farm meliputi perawatan dan sanitasi. Perawatan sarana dan prasarana hanya dilakukan apabila terdapat kandang yang mengalami kerusakan. Sanitasi di peternakan Kusuma Farm dengan cara pembersihan kandang dua kali sehari dan juga pembuangan atau pengaliran limbah cair ke sungai yang digunakan untuk irigasi sawah. Berdasarkan hasil diskusi dengan asisten dapat disimpulkan bahwa perawatan sarana dan prasarana dilakukan apabila kandang mengalami kerusakan.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Pemantauan Ternak. Berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa metode pemantauan ternak yang dilakukan di peternakan Kusuma Farm adalah ternak dilakukan pemantauan setiap hari untuk mengetahui apakah ternak dalam keadaan sehat atau menunjukkan ciri-ciri yang sedang sakit. Ciri-ciri ternak yang sehat dan ternak yang sakit diketahui dengan melakukan diskusi bersama asisten. Berdasarkan hasil diskusi diketahui bahwa ternak yang dalam kondisi sehat memiliki ciri-ciri mata bersinar, ternak dalam kondisi aktif, mampu melakukan ruminasi, serta nafsu makan tinggi. Ternak yang sedang dalam keadaan sakit memiliki ciri-ciri ternak dalam kondisi pasif atau tidak aktif, terdapat tanda-tanda bahwa ternak akan sakit, serta nafsu makan menurun. Menurut Widi et al., (2008) pemantauan kesehatan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, status kesehatan ternak dapat dilihat dari kondisi fisik, fisiologisnya, tingkah laku dan feses. Secara tidak langsung status kesehatan ternak dapat dilhat berdasarkan data dan pemeriksaan sampel. Santosa (2006), ciri-ciri ternak sehat yaitu makan teratur, pernafasan tenang dan teratur, hewan tidak kurus, kulit mulus tidak ada luka, mata jernih dan terang, tidak ada pembengkakan di sekitar mata, kulit elastis dan lemas, anus bersih, dan feses normal. Ciri-ciri ternak yang sakit yaitu, nafsu makan menurun, lesu, pernafasan cepat, kepala terkulai, hewan kurus, hidung dan mulut berdarah atau bernanah, mata buram dan merah, terdapat luka di mulut dan pucat, bulu kusam dan kotor, ada luka di permukaan kulit, kulit tidak lemas dan elastis, anus kotor, feses berlendir ada darah dan cacing, dan ada bengkak di bagian tubuh. Berdasarkan literatur yang ada, dapat disimpulkan bahwa pengamatan ternak yang dilakukan sudah baik.

Penyakit yang Sering Muncul. Penyakit yang sering muncul di peternakan Kusuma Farm diketahui dengan cara melakukan wawancara kepada pegawai dan pemilik peternakan secara langsung. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa penyakit yang sering muncul adalah :

Tabel 9. Penyakit yang sering muncul

Nama Penyakit Gejala Penyebab
Diare Feses encer Antibiotik, vitamin
Luka Ada luka Tergores
Kutuan Mengesek-gesekkan bagian tubuh yang gatal Kutu
Cascado Mata terluka Mata terluka
Lumpuh Tidak dapat berdiri Terpeleset

 

Obat yang Sering Digunakan. Obat yang sering digunakan pada ternak di peternakan Kusuma Farm diketahui dengan melakukan pengamatan dan wawancara terhadap pegawai dan pemilik peternakan. Berdasarkan hasil pengamatan dan juga wawancara, diketahui bahwa obat yang sering digunakan adalah :

Tabel 10. Obat yang sering digunakan

Nama Obat Kandungan Fungsi Dosis
Supertetra Obat diare
Air arang Obat kembung
Novaldon
Balsem Obat pincang
Bodrex Penambah nafsu makan

 

Penanganan Ternak Sakit. Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa penanganan ternak sakit di peternakan Kusuma Farm adalah sebagai berikut :

Tabel 11. Penanganan ternak sakit

No. ID Ciri-ciri yang terlihat Diagnosis Penanganan
Brahman Jantan Paha terluka Luka Dikarantina, diobati
Simpo Jantan Mata terluka Cascado Dikarantina, diobati
Simpo Jantan Menggarukkan leher ke kandang Kutuan Dikarantina, diobati

 

Manajemen Limbah Peternakan

Macam Limbah yang Dihasilkan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa limbah yang dihasilkan di peternakan Kusuma Farm diantaranya adalah untuk limbah padat berupa feses dan sisa pakan sedangkan untuk limbah cair berupa urin dan sisa air minum. Menurut Rianto dan Endang  (2010), kotoran ternak terdiri dari feses dan sisa pakan yang tidak habis dimakan oleh ternak. Limbah yang ada akan menimbulkan permasalahan jika ada dalam jumlah banyak dan tidak diolah. Macam permasalahan yang muncul antara lain dapat menyebabkan polusi bagi lingkungan, seperti pencemaran udara, pencemaran tanah, dan pencemaran air.

Penanganan Limbah yang Dihasilkan

Penanganan limbah yang ada di peternakan Kusuma Farm masih hanya sebatas dialirkan ke selokan untuk yang limbah cair dan untuk yang limbah feses ketika musim hujan maka limbah feses akan dijual langsung sedangkan ketika musim kemarau akan diolah menjadi pupuk. Menurut Bambang (2003), penanganan limbah padat dapat diolah menjadi kompos, yaitu dengan menyimpan atau menumpuknya, kemudian diaduk-aduk atau dibalik-balik. Perlakuan pembalikan ini akan mempercepat proses pematangan serta dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan lalu dilakukan pengeringan untuk beberapa waktu sampai kira-kira terlihat kering. Penanganan limbah cair dapat diolah secara fisik, kimia dan biologi. Penanganan secara fisik digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah. Pengolahan secara kimia digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat. Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan kimia bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair.

 

Manajemen Pasca Panen Dan Pemasaran

Pemasaran

Berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik, diketahui bahwa produk yang dihasilkan dari peternakan Kusuma Farm adalah berupa ternak sapi yang sudah siap potong. Sapi yang sudah siap potong tersebut biasanya dijual setiap 5 hari sekali di pasar hewan Prambanan. Proses pengangkutan ternak dari peternakan ke pasar diangkut dengan menggunakan pick up. Jenis sapi yang dijual tergantung dari permintaan pembeli, tetapi jenis sapi yang banyak dibeli adalah sapi jenis Simpo dan Limpo. Berdasarkan hasil diskusi, dapat disimpulkan bahwa pemasaran yang dilakukan adalah dengan menjual ternak yang sudah siap potong ke pasar Prambanan setiap 5 hari sekali.

 

 

PERMASALAHAN DAN SOLUSI

Permasalahan

Permasalahan yang ada di Kusuma Farm adalah tidak adanya recording yang dilakukan kepada ternak sehingga sulit mengetahui riwayat dari kondisi ternak tersebut yang menyebabkan manajemen kurang begitu efektif. Kusuma Farm juga merupakan salah satu usaha peternakan yang belum terdaftar resmi sehingga masih belum terkena pajak. Lahan parkir yang ada di Kusuma Farm masih tergolong sempit sehingga jika ada pengunjung datang akan kesulitan untuk memarkir kendaraannya. Pemberian pakan yang dilakukan di Kusuma Farm juga masih belum memperhitungkan nilai kandungan nutrisinya karena hanya berprinsip supaya ternak bisa gemuk saja tanpa mempertimbangkan dampak yang dihasilkan. Pemasaran yang dilakukan hanya sebatas menjual ternak yang sudah siap potong tanpa dilakukan pengolahan terhadap produk yang dihasilkan.

 

Solusi

Solusi yang dibutuhkan untuk Kusuma Farm adalah perlu dilakukannya recording untuk memudahkan pemantaun terhadap ternak, baik untuk perawatan ternak maupun riwayat dari ternak tersebut. Sebagai usaha peternakan yang tergolong besar, sebaiknya Kusuma Farm juga mendaftarkan peternakannya agar menjadi resmi dan bisa membayar pajak sesuai dengan yang harus dibayarkan. Pemberian pakan yang diberikan sebaiknya perlu dihitung nilai kandungan nutrisinya agar ternak lebih sehat dan kualitas daging yang dihasilkan lebih bagus. Pemasaran yang dilakukan sebaiknya diadakan pengolahan produk yang dihasilkan untuk menambah nilai jual dan keuntungan yang diperoleh.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan manajemennya sudah baik, tetapi pada manajemen recording, transportasi, serta manajemen penanganan ternak sakit masih termasuk dalam kategori yang belum baik.

 

Saran

Tataletak kandang sudah lumayan bagus tetapi penempatan ternak masih belum bagus karena masih belum dikelompokkan berdasarkan kriteria dari ternak. Pemberian pakan sebaiknya lebih diperhatikan lagi terutama dalam menyusun ransum pakan agar kondisi kesehatan ternak dapat terjaga. Sapi yang dipelihara masih belum dilakukan pengolahan menjadi produk yang bisa meningkatkan nilai jual produk sapi, sehingga perlu adanya teknologi yang mampu mengubah produk sapi potong menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi. Manajemen perlu diperbaiki lagi terutama manajemen recording karena untuk lebih memudahkan pengelolaan peternakan itu sendiri. Limbah yang dihasilkan sebaiknya perlu dilakukan pengolahan agar peternakan berkesinambungan dapat berjalan dengan baik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka,. Jakarta.

Arisuma, O. D. 2005. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Potong di PT. Widodo Makmur Perkasa Bogor Jawa Barat. Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Bambang, Cahyo. 2003. Pemeliharaan Ternak SapiBP.IPWI. Jakarta.

Basuki, Purwanto, Nono Ngadiyono, dan Gatot Murdjito. 1998. Dasar Ilmu Ternak Potong dan Kerja. UGM press. Yogyakarta.

Darmono. 1999. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius. Yogyakarta.

Eversole D., M. F. Browne, J. B. Hall, and R. E. Dietz. 2009. Body Condition Scoring Beef Cows. VirginiaTech Virginia State University. Virginia.

Fikar, Samsul dan Dadi Ruhyadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT Agro Media Pustaka. Jakarta.

Hakim, L., G.Ciptadi, dan V.M.A. Nurgiartiningsih. 2010. Model Rekording Data Performans Sapi Potong Lokal Di Indonesia. Jurnal Ternak Tropika Vol. 11, No.2:-61-73.

Martawidjaja, Muchji . 2003. Pemanfaatan jerami padi sebagai pengganti rumput untuk ternak ruminansia kecil . Wartazoa vol. 13 no. 3 th. 2003 119

Mulyono S. 2005. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Ngadiyono, N. 2012. Beternak sapi, PT. Citra Aji Parama.Yogyakarta.

Purwadi A., N. Delly, K. Karim, M.B.M. Amin, dan H. Natalie. 2005. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan. Palembang.

Rasyid, Ainur dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Rianto, E. dan E. Purbowati. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Santosa, Undang. 2006. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Syafrial, Endang Susilawati dan Bustami. 2007. Manajemen Pengelolaan Penggemukan Sapi Potong. Balai Pengkajian Pertanian Jambi.

Widi, T.M., A. Agus, A. Pertiwiningrum, dan T. Yuwanta. 2008. Road Map Pengembangan Ternak Sapi Potong Provinsi D.I. Yogyakarta. Penerbit Ardana Media. Yogyakata.

Winugroho, M., 2002. Strategi Pemberian Pakan Tambahan untuk Memperbaiki Efisiensi Reproduksi Induk Sapi. Jurnal Litbang Pertanian, 21(1): 19-23.

Yulianto, P. dan Saparinto Cahyo. 2010. Pembesaran Ternak Secara Intensif. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

 

 

Analisis Usaha

 

Harga pokok pembelian     : Rp 36.000,00 per kg bobot badan

Estimasi bobot beli              : 320 kg

Lama pemeliharaan            : 4 bulan atau 120 hari

Biaya pakan/hari                  : Rp 25.000,00

Bobot panen                         : 500 kg

Dicari                                      : ADG ?

: Harga 1 ekor sapi ?

Jawab                                                :

ADG               : 500 – 320    =  180 kg

120 hari         120

= 1,5 kg

Harga 1 ekor sapi     : Rp 36.000,00 x 320 kg = Rp 11.520.000,00

Harga pakan             : Rp 25.000,00 x 120 hari = Rp 3.000.000,00

Input                           =  harga sapi + harga pakan

= Rp 11.520.000,00 + Rp 3.000.000,00

= Rp 14.520.000,00

Output                        = bobot panen x harga pokok pembelian

= 500 kg x Rp 36.000,00

= Rp 18.000.000,00

Untung                      = output – input

= Rp 18.000.000,00 – Rp 14.520.000,00

= Rp 3.480.000,00

 

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa penjualan seekor sapi yang ada di Kusuma Farm sebesar = Rp 18.000.000,00. Input atau biaya produksi tiap ekor sapi sebesar = Rp 14.520.000,00.  Sehingga keuntungan penjualan satu ekor sapi sebesar Rp 3.480.000,00.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *